Jumat, 14 September 2012

Sejarah Situ Buleud

Disebut Situ Buleud karena danau yang cukup luas itu berbentuk bulat (Sunda, buleud). Asal-usul Situ Buleud berkaitan erat dengan peristiwa perpindahan ibukota Kabupaten Karawang dari Wanayasa ke Sindangkasih, tepatnya sejalan dengan pembangunan infrastruktur kota Purwakarta pada tahap awal. Hal itu berarti Situ Buleud dibuat atas gagasan Bupati R.A. Suriawinata (Dalem Solawat). Pembuatannya berlangsung antara tahun 1830 – pertengahan tahun 1831.
Situ Buleud dibuat dengan beberapa tujuan. Secara garis besar Situ Buleud dibuat dengan dua tujuan dan kegunaan. Pertama, sebagai sumber air bagi kepentingan pemerintah dan masyarakat kota Purwakarta. Air dari situ antara lain digunakan untuk keperluan ibadat dan kegiatan lain di Masjid Agung. Kedua, sebagai fasilitas kota, yaitu sebagai tempat rekreasi. Untuk kepentingan tujuan/kegunaan kedua, ditengah situ didirikan bangunan tradisional sejenis bangunan gazebo (bangunan tanpa dinding) sebagai tempat istirahat (pasanggrahan).
Pembangunan Situ Buleud dengan tujuan/kegunaan kedua, boleh jadi berkaitan erat dengan salah satu hak istimewa bupati, yaitu hak menangkap ikan di sungai atau danau. Hak istimewa itu merupakan bagian dari gaya hidup bupati waktu itu. Dalam kenyataannya, yang menangkap ikan bukan bupati tetapi sejumlah rakyat. Dalam acara itu, bupati tinggal di pasanggrahan yang berada di tengah situ menyaksikan sejumlah rakyat menangkap ikan. Acara itu biasanya dimeriahkan oleh iringan gamelan.
Hampir bersamaan dengan kegiatan merenovasi pendopo tahun 1854, Situ Buleud pun diperbaiki dan diperluas (Hardjasaputra, ed., 2004 : 59). Hal itu menunjukkan, bahwa Situ Buleud memiliki arti penting bagi kehidupan di kota Purwakarta. Salah satu arti pentingnya adalah sebagai penawar udara panas. Kota Purwakarta termasuk tempat bersuhu udara panas. Keberadaan volume air dalam jumlah banyak pada areal cukup luas, menyebabkan suhu udara di pusat kota menjadi tidak terlalu panas, dalam arti cukup menyenangkan. Oleh karena itu, areal Situ Buleud sangat memadai sebagai tempat rekreasi. Rupanya kondisi itu telah mengilhami seniman pencipta lagu Sunda berjudul “Situ Buleud”.
Sekarang bangunan pasanggrahan di tengah situ sudah lenyap. Demikian pula acara menangkap ikan seperti disebutkan, tiada lagi. Sejak kapan pasanggrahan dan acara itu lenyap, belum diketahui secara pasti. Namun demikian, sampai sekarang Situ Buleud tetap merupakan ciri khas (landmark) kota Purwakarta. Situ Buleud sudah dikenal luas oleh masyarakat di laur Purwakarta, baik karena mereka pernah datang ke tempat itu maupun mendengar cerita orang, atau mendengarnya melalui lantunan lagu “Situ Buleud”.
            Dari uraian singkat tersebut, Situ Buleud memiliki nilai sejarah bagi pemerintah dan masyarakat Purwakarta. Tempat bersejarah itu merupakan bagian dari jati diri masyarakat asli Purwakarta. Sampai sekarang, Situ Buleud memiliki usia yang sama dengan pendopo. Atas dasar itu, Situ Buleud pun termasuk BCB

Bumi Ageung Purwakarta

Bumi Ageung dibangun dalam proses perpindahan ibu kota Kabupaten Karawang dari Wanayasa ke Sindangkasih (Purwakarta). Dapat dipastikan bangunan itu didirikan oleh penduduk Distrik Sindangkasih atas perintah Bupati Karawang, R.A. Suriawinata (Dalem Solawat). Bangunan itu didirikan setelah bupati menetapkan sebagian lahan Sindangkasih akan dibangun menjadi ibukota baru Kabupaten Karawang (paruh pertama tahun 1830).
Selama kota Purwakarta dan pendopo dibangun, Bupti R.A. Suriawinata beserta keluarga tinggal di Bumi Ageung yang difungsikan sebagai pendopo sementara. Bangunan itu sampai sekarang masih berdiri. Mengapa bangunan itu disebut Bumi Ageung, belum diperoleh informasi yang akurat. Boleh jadi karena bangunan itu – walaupun untuk sementara waktu – digunakan sebagai tempat tinggal sekaligus kantor bupati. Berapa lama Bumi Ageung berfungsi sebagai pendopo sementara, belum diketahui. Mungkin tidak ada dokumen yang mencatat tentang hal itu.
            Setelah kota Purwakarta diresmikan dan pendopo selesai dibangun, Bupati R.A. Suriawinata beserta keluarga pindah ke pendopo. Namun sangat disayangkan, sumber yang menyatakan kapan tepaynya pendopo selesai dibangun, belum ditemukan, bahkan mungkin tidak ada.
Apa fungsi Bumi Ageung selanjutnya, belum diketahui. Diduga, setelah bupati pindah ke pendopo, Bumi Ageung digunakan sebagai tempat tinggal patih kabupaten atau fungsi lain dalam aktivitas pemerintahan kabupaten. Apabila dugaan itu benar, boleh jadi hal itu berlangsung sampai berkahirnya masa pemerintahan Hindia Belanda (awal 1942).
            Sangat disayangkan, data yang menunjukkan fungsi Bumi Ageung pada masa pendudukan Jepang (1942-1945) dan masa-masa selanjutnya, belum ditemukan. Namun demikian, bangunan tersebut jelas memiliki nilai sejarah, karena fungsinya dalam proses pendirian kota Purwakarta dan sebagai “saksi bisu” perjalanan sejarah kota Purwakarta sampai sekarang.

Danau Cirata

Cirata, selain berpungsi sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) danau yang berketinggian sekitar 223 meter di atas permukaan laut itu, dikelilingi bukit menjadikan keindahan alam yang sangat menarik. PLTA Cirata merupakan Proyek Induk Pembangkit Hidro Jawa Barat (Pikitdro Jabar) yang dapat membangkitkan energi listrik rata-rata sebesar 1.426 juta kilowat/jam pertahun   Bila melakukan perjalanan dari Kota Purwakarta melalui Plered, kita akan tiba di Cirata dalam waktu kurang lebih  40 menit.  Dalam perjalanan itu,  dapat dinikmati keindahan alam di sepanjang jalan  Plered-Cirata.  Ke depan danau Cirata akan dikembangkan menjadi  tempat  educationol tourism bagi para pelajar dan mahasiswa dan sarana rekreasi, terutama rekreasi air seperti halnya Obyek Wisata Jatiluhur

Objek Wisata Ziarah Makam Baing Yusuf


Syech Baing Yusuf yang lahir dan dibesarkan di Bogor, zamannya merupakan seorang ulama besar yang terpandang dan disegani. Menginjak dewasa, berkelana mencari ilmu ke berbagai daerah di pulau jawa, bahkan sampai ke Madagaskar mengembara bersama pelaut nusantara.
Setelah ibadah haji usai, beliau mengamalkan ilmu pengetahuannya kepada masyarakt dan mulai hidup menetap di Purwakarta. Beliau bermukim di kaum ( Paimbaran Mesjid Agung ) Purwakarta dan mendirikan pondok pesantren sebagai salah satu sarana, tempat pembelajaran bagi pengikut dan murid-muridnya, dari sekian banyak murid, salah satu diantaranya adalah Syech Nawawi Al Batoni yang bermukim di Mekah.
Melengkapi pengamalannya, beliau membuat buku fiqih dan tafsir sunda yang sampai sekarang masih terasa kegunaannya dan manfaatnya bagi masyarakat.

Objek Wisata Ziarah Makam Mama Sempur



KH. TB. Ahmad Bakry dilahirkan di Desa Citeko Plered, setelah menginjak dewasa belajar kepondok pesantren Sempur, untuk menggali dn memperdalam ilmu keagamaan baliau belajar ke Cirebon, Jawa Tengah, Jawa Timur dank e Mekah.
Setelah merasa cukup, kembali ke Desa Sempur untuk mengamalkan ilmu pengetahuannya kepada masyarakat dan mulai hidup menetap di Desa Sempur. KH. TB. Ahmad Bakry, atau lebih dikenal dengan Mama Sempur wafat tahun 1975 pada usia 128 tahun, dimakamkan di Desa Sempur Kecamatan Plered, sekitar 16 Km dari pusat kota atau waktu tempuh (lama perjalanan sekitar 30 menit). Mama Sempur pada zamannya, adalah ulama besar dan disegani.
Sekarang ini, makam Mama sempur merupakan tempat wisata budaya berupa ziarah, pengunjung dating selain dari Purwakarta sendiri juga dari Bandung dan sekitarnya, Cirebon, Subang, Karawang, Bekasi, Cianjur, Bogor, Jakarta dan dari luar Propinsi Jawa Barat, seperti Banten, Lampung, Semarang, Jogyakarta dan Surabaya.
Melihat dari jumlah kunjungan yang terus meningkat dan untuk memenuhi kebutuhan kenyamanan pengunjung, maka sudah saatnya Makam Mama Sempur dikembangkan menjadi objek wisata budaya, bentuk penataannya disesuaikan dengan kondisi sarana dan prasarana yang sudah tersedia, terutama penataan sarana ibadah, space makam, jalan masuk menuju lokasi, areal parkir, cinderamata dan kebutuhan akomodasi.
Arahan pengembangan paket wisata budaya adalah wisata ziarah, paket wisata yang diusulkan adalah Makam Mama Sempur Syech Baing Yusuf – Dalem Santri.

Goa Jepang


Gua Jepang terletak di Desa Pusakamulya Kiarapedes atau 28 Km dari kota Purwakarta, memiliki ketinggian sekitar 700 meter dari permukaan laut, temperatur/suhu udara berkisar antara 17 sampai dengan 20 derajat Celsius. Dikelilingi perkebunan the, pohon pinus, cengkeh, manggis dan termasuk dalam kawasan puncak Gunung Burangrang.
Jaringan jalan yang melintasi Desa Pusakamulya, meliputi jalan Kabupaten, jalan desa, kerikil dan jalan tanah, terutama sepanjang 2 Km menuju lokasi Gua Jepang masih jalan setapak.
Gua Jepang merupakan gua buatan yang dibangun oleh Jepang (Romusa) sekitar tahun 1943 untuk digunakan sebagai tempat persembunyian. Cara pembuatannya menggunakan sistem aplusan (seep) yang lamanya sekitar 2 sampai dengan 7 hari secara bergantian, panjang gua sekitar 200 meter, tinggi 2 sampai dengan 3 meter, lebar 4 sampai dengan 5 meter. Memiliki 3 pinti masuk/keluar, 12 kamar berbentuk huruf T dengan ukuran kamar-kamar antara 3 sampai dengan 6 meter menyerupai huruf U (memutar).
Di sebelah utara, terdapat Curug Gara Cina, yang memiliki kejatuhan air sekitar 20 meter dan Curug Cimalangnengah setinggi 30 meter. Menurut hasil studi, Gua Jepang layak untuk dikembangkan menjadi objek wisata budaya.

Kemudian untuk pengembangan pariwisatanya diusulkan pengembangan objek wisata alam berupa camping ground, horse riding, lintas alam dan agro wisata. Sedangkan wisata budaya di sarankan, berupa penataan desa wisata, cinderamata dan pemanfaatan kesenian setempat.
  

         

Rumah Kuno Citalang

               Rumah Adat Citalang merupakan rumah kuno yang terletak di dusun Karangsari Desa Citalang atau sekitar 4 Km dari kota Purwakarta. Tempat ini, peninggalan dari Raden Mas Sumadirja yang dibangun sekitar tahun 1905.  Dahulunya, Raden Mas Sumadirja, adalah putera Bupati Brebes yang diberi tugas berjuang mengusir penjajahan Belanda di Batavia. Beliau berangkat ke Batavia bersama 3 orang saudaranya dibantu para prajuritnya. Akibat pertempuran dan ketidakseimbangannya kekuatan, pasukan Raden Mas Sumadirja terdesak mundur mencari tempat penyelamatan, menghindar ke Karawang ke Plered dan akhirnya ke Desa Citalang.
               Di Desa Citalang, beliau membangun rumah adat, hidup telah menetap dan berbaur dengan masyarakat. Karena disenangi masyarakat, beliau ditunjuk dan dilantik sebagai Kepala Desa Citalang yang ke III. Kepala Desa pada zamannnya mendapat julukan Patinggi, dan kepada Raden Mas Sumadirja diberi julukan Patinggi III.
              Karena ruangan pada rumah tersebut dipandang cukup memadai, maka disamping sebagai tempat pemukiman juga dipergunakan sebagai kantor untuk penyelenggaraan pemerintah desa.
              Panjang rumah 16 meter lebar 8 meter, berbentuk rumah panggung, tinggi sekitar 4 meter, bahan bangunannya terbuat dari kayu, bambu, batu cadas dan genteng.
              Berdasarkan Surat Keputusan Direktur Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 230 / C.1 / FS.3 / 93 tanggal 8 Juni 1993 Rumah Adat Citalang ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya (BCB) digolongkan sama dengan kelompok bangunan/situs peninggalan sejarah dan purbakala Jawa Barat.  Sampai sekarang tempat tersebut masih terpelihara dengan baik.
               Arahan pengembangan kepariwisataan yang diusulkan, adalah pengembangan wisata budaya berupa Haritage Tourism Area  atraksinya benda-benda sejarah.