Jumat, 06 Desember 2013

Tantangan Abad 21 Menurut Peter Drucker

Sejak ilmu manajemen pertama kali dikenal, sebagian besar pakar, pengamat, serta praktisi manajemen berpegang pada dua perangkat asumsi dasar mengenai realitas manajemen, yang menuju pada suatu kesimpulan bahwa sisi dalam organisasi merupakan domain dari ilmu manajemen. Sampai dengan awal tahun 1980-an semua asumsi tersebut, masih cukup dekat dengan kenyataan keseharian, baik untuk bidang penelitian, penulisan, pendidikan maupun manajemen praktis. Namun seiring dengan perubahan jaman, asumsi-asumsi tradisional tersebut tidak lagi relevan, bahkan menjadi penghalang bagi pengembangan teori dan praktek manajemen.
Berdasarkan pertimbangan di atas, Drucker yang merupakan seorang pakar teori manajemen terkemuka, berpendapat bahwa asumsi-asumsi yang selama ini digunakan perlu dikaji ulang, untuk kemudian diformulasikan suatu asumsi baru yang mampu memberikan informasi yang lengkap tentang teori dan praktek manajemen. Dengan memaparkan latar belakang mengapa selama ini digunakan asumsi tradisional, untuk kemudian diperbandingkan dengan kondisi saat ini, Drucker menegaskan bahwa: manajemen harus difokuskan pada hasil dan kinerja organisasi yang merupakan sisi luar dari organisasi. Karena itu manajemen menjadi alat khusus yang membuat sebuah organisasi mampu membuahkan sebuah hasil. Dengan fungsi tersebut, Drucker menawarkan suatu paradigma manajemen yang baru yaitu :
Perhatian dan tanggung jawab manajemen merupakan faktor yang mempengaruhi kinerja sebuah organisasi dan hasil yang dicapai, baik di dalam maupun di luar organisasi, yang terkontrol maupun tidak oleh organisasi tersebut.
Dengan paradigma manajemen yang baru ini, asumsi dasar mengenai praktek dan prinsip manajemen juga mengalami perubahan. Dalam buku ini Drucker memaparkan sejumlah tantangan yang harus dihadapi manajemen dalam memasuki abad 21 yang penuh perubahan.
Tantangan yang pertama adalah dalam hal mengatur strategi. Drucker melihat bahwa periode dimana sekarang kita hidup merupakan bagian dari suatu transisi mendasar, dengan dampak perubahan-perubahan yang jauh lebih besar dibandingkan yang terjadi pada masa revolusi industri kedua ataupun perubahan struktural yang dipicu oleh masa depresi (tahun 1930-an) serta Perang Dunia ke 2. Walaupun merupakan masa transisi yang penuh dengan ketidakpastian, hal-hal yang pasti tetap diperlukan yang dapat dijadikan dasar penyusunan strategi dan menurut Drucker realitas di bawah ini merupakan hal yang pasti di masa datang:
  • turunnya angka kelahiran di negara maju
  • terjadinya pergeseran distribusi disposable income masyarakat
  • redefinisi dari kinerja korporasi
  • adanya kompetisi global
  • ketidakselarasan antara perekonomian dan politik
Bagaimana kelima realitas yang bersifat pasti akan sangat mempengaruhi suatu organisasi, apapun bidang tugas organisasi tersebut, digambarkan dengan jelas oleh Drucker. Drucker menegaskan bahwa kelima realitas tersebut, harus menjadi pertimbangan mutlak bagi suatu organisasi dalam menyusun strategi ke depan. Jika suatu organisasi mengesampingkan ke lima hal tersebut, maka, menurut Drucker, organisasi tersebut tak akan mampu menjawab tantangan yang pasti muncul dalam masa terjadinya ketidakpastian, perubahan struktural, ekonomi, sosial, politik dan transformasi teknologi .
Mengiringi masa transisi, diperlukan pula pemimpin yang mampu menghadapi perubahan. Drucker menekankan bahwa seseorang tak akan dapat mengatur perubahan, yang bisa dilakukannya adalah melangkah di depan perubahan tersebut. Karena itu jargon "mengatasi penolakan terhadap perubahan" yang sepuluh sampai lima belas tahun lalu sangat terkenal dalam ilmu manajemen, saat ini tidak dapat diterima lagi. Semua orang sudah mengakui bahwa perubahan merupakan sesuatu yang tak dapat dihindari. Pada periode dimana perubahan struktural terjadi sangat cepat, mereka yang mampu bertahan hanyalah yang mampu menjadi pemimpin perubahan tersebut dan melihat perubahan sebagai suatu kesempatan. 
Selanjutnya Drucker membahas tantangan informasi baru dengan menguraikan karaketeristik revolusi informasi baru yang perlu diketahui agar dapat dijadikan dasar dalam menyiasati tantangan di bidang informasi. Dalam hal ini, Drucker mengingatkan bahwa dalam menghadapi revolusi informasi perhatian hendaknya difokuskan pada makna informasi itu sendiri sementara teknologi hanya merupakan alat bantunya.
Selain kualitas pemimpin, keberhasilan suatu organisasi dalam menjawab tantangan masa depan tidak lepas dari dukungan para pekerja yang berkualitas. Jika selama ini perhatian diberikan pada upaya untuk meningkatkan produktifitas para pekerja manual, maka di masa datang yang paling penting dilakukan adalah meningkatkan produktifitas kerja dan pekerja yang berbasis pengetahuan/berwawasan (knowledge worker). Tidak seperti pekerja manual, pekerja berwawasan harus dipandang sebagai capital asset dan bukan capital cost. Seorang pekerja yang berwawasan harus terus belajar agar memberikan kontribusi yang maksimal bagi organisasi.  Drucker menguraikan kiat-kiat yang perlu diketahui para pekerja yang berbasis pengetahuan dalam menghadapi tantangan abad 21.
"Management Challenges for the 21st Century" tidak membosankan dibaca dan bukan sekedar teks book. Selain padat dengan pembahasan kasus-kasus, penulis juga menyuguhkan wawasan yang bijaksana. Dengan kapasitas penulisnya sebagai pakar manajemen, dapat dipastikan banyak manfaat yang bisa dipetik dan direnungkan dengan membaca buku ini. Uraian Drucker yang sudah menjangkau masa depan mengingatkan kita untuk berani melakukan perubahan dan mempersiapkan diri sebaik-baiknya dalam menghadapi perubahan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar