Minggu, 16 September 2012

Kebudayaan


  Kebudayaan   sebagai   hasil   karya,   cipta,   dan   rasa  manusia   dalam   perjalanan sejarahnya dimulai dari yang paling sederhana, berkembang, dan maju terus setahap demi setahap sampai pada yang kompleks dan modern seperti sekarang ini.
Budaya adalah buah pemikiran, akal budi dan daya (kekuatan, kemampuan, atau potensi). Budaya dapat dilihat dari dua sisi. Pertama dari sisi objek (hasil pemikiran/kerja/karya  manusia)  dan kedua  dari sisi sosial kemasyarakatan  (moral, nilai, adat istiadat atau aturan yang sudah menjadi kebiasaan masyarakat/organisasi dan sukar diubah).
Dalam ilmu Antropologi, kebudayaan adalah keterkaitan antara pola pikir, perilaku,  dan  artefak  pada  suatu  kelompok  etnik  tertentu.  Konsep  ini  kemudian dipinjam oleh ilmu manajemen dan diberlakukan pada kelompok kerja (bukan etnik).
Menurut Edgar H. Schein, budaya adalah suatu pola dari asumsi dasar ketika kelompok  telah mengetahui  bahwa asumsi itu dapat memecahkan  masalah  dalam melakukan  adaptasi  ekstern  dan  integrasi  intern,  dan  telah  berjalan  dengan  baik serta dinyatakan  sebagai  hal yang benar.  Oleh  karena  itu perlu diajarkan  kepada anggota kelompok yang baru bahwa ini merupakan cara yang benar untuk dihayati, dipikirkan, dan dirasakan dan dilaksanakan.  Asumsi dasar tersebut  berupa kebersamaan yang meliputi: a.   kebersamaan atas sesuatu (shared-things), misalnya pakaian seragam; b.  kebersamaan perkataan (shared-saying), misalnya ungkapan, semboyan; c.  kebersamaan   dalam  perbuatan  (shared-doing) misalnya  kerja  bakti,  gotong royong;
d.   kebersamaan  dalam  perasaan  (shared-feeling),  misalnya  ucapan  ulang  tahun, belasungkawa.
Pola  pikir (falsafah,  kepercayaan,  keyakinan,  tahayul)  adalah  acuan  utama yang dijadikan pedoman perilaku oleh seluruh anggota kelompok. Dalam bahasa psikologinya,  disebut kognisi yang berisi belief, attitude, superego, dan sebagainya,yang terdapat dalam diri orang per orang. Perilaku setiap orang dalam kelompok itu akan selalu mengacu pada pola pikir tersebut, sementara semua benda yang dibuat dan digunakan anggota kelompok (mulai alat rumah tangga sampai kelengkapan bersembahyang) disebut artefak. Ketiga unsur kebudayaan ini tidak dapat dilepaskan satu dari yang lain karena pada hakikatnya  ketiganya merupakan  kesatuan.  Orang Amerika  dan  orang  Cina  mempunyai  pola  pikir  yang  berbeda  dalam  hal  makan, sehingga  cara  makan  (perilaku)  dan makanan  serta alat makannya  (artefak)  juga sangat  berbeda.  Orang  Amerika  makan  beef  steak  dengan  pisau  dan  garpu, sedangkan   orang  Cina  makan  bakmi  berkuah  dengan   sumpit  dan  menghirup kuahnya langsung dari mangkuk. Cara makan orang Cina bisa dianggap tidak sopan bagi orang Amerika, sementara cara makan orang Amerika sangat merepotkan bagi orang Cina.
Akan tetapi tidak berarti bahwa orang Amerika tidak bisa diajari untuk makan cara Cina atau sebaliknya. Individu-individu dari kedua kelompok etnik itu bisa saling mempelajari  perilaku etnik yang lain dan mempraktikkannya  dengan menggunakan artefaknya,   tetapi  tidak  harus  mengadopsi   kebudayaannya   itu  sendiri.  Dengan demikian di Jakarta, pengusaha Taiwan menggunakan pisau dan garpu ketika makan beef steak di restoran internasional,  sementara pengusaha Amerika makan dengan sumpit di restoran Cina. Bahkan tidak jarang restoran yang menyediakan pisau-garpu dan  sumpit  sekaligus  untuk  memungkinkan   tamu-tamunya  memilih  sendiri  cara makan yang disukainya.
Sederet contoh dapat dikemukakan  tentang perilaku penyesuaian  (adaptasi) yang  tidak  diikuti  oleh  perubahan  pola  pikir  budaya  itu  sendiri.  Misalnya:  orang Indonesia bisa antre di luar negeri, tetapi tidak antre begitu kembali di negeri sendiri; orang  bisa  tepat   waktu  ketika  mau  berangkat   dengan   pesawat   terbang   atau menonton  bioskop,  tetapi  terlambat  datang  ke  sekolah  atau  kantor.  Begitu  juga (sudah menjadi rahasia umum), turis Arab di Jakarta minum bir dan minta disediakan wanita,  tetapi  kembali  alim  di  negerinya  sendiri.  Sebaliknya,  "senakal-nakal"-nya orang  Indonesia,  akan  sangat  alim  ketika  naik  haji  di Arab  Saudi,  tetapi  kembali "nakal"  begitu  pulang  ke Indonesia.  Demikian  pula tumpukan  sajadah  (salah  satu artefak  dalam  kebudayaan  Islam)  tidak  bermakna  apa-apa  bagi orang  yang  tidak terbiasa sholat (salah satu perilaku muslim), tetapi akan dicari-cari (kalau perlu meminjam  atau membeli ke toko terdekat)  oleh seseorang  yang ingin sholat ketika waktu sholat tiba.Sumber  budaya  yang pertama  berasal  dari hati dan pikiran manusia,  yang kedua  dari  kesadaran  dan  kerelaan  manusia.  Sementara  pelaku  budaya  adalah manusia, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat/organisasi.  
Fungsi dan kegunaan budaya adalah sebagai berikut  : a)  Identitas dan citra suatu masyarakat.
b)   Pengikat suatu masyarakat atau organisasi. 
c. Sumber inspirasi, kebanggaan, dan sumber daya. d)   Kekuatan penggerak/dinamisator.
e. Kemampuan untuk membentuk nilai tambah. f)   Pola perilaku
g)  Warisan dari leluhur. 
h.)Substitusi formalitas (pengganti perintah formal). 
Mekanisme adaptasi terhadap perubahan.
j)   Proses terjadinya bangsa sehingga sama dengan negara. 

Tingkat budaya adalah sebagai berikut.

1) Tingkat pertama (Artifac), yaitu produk/barang, jasa dan tingkah laku anggota masyarakat. Sesuatu   yang dilihat,   didengar,   dirasakan   jika    seseorang berhubungan  dengan suatu  kelompok/masyarakat   baru  dengan  budaya  yang tidak dikenalnya.
2)  Tingkat  kedua (espoused  value),  yaitu nilai-nilai  yang didukung  dengan  alasan yang diberikan oleh sebuah organisasi/masyarakat untuk mendukung caranya melakukan sesuatu.
3)  Tingkat  ketiga  (basic assumptions),  yaitu keyakinan  yang dianggap  sudah ada oleh suatu anggota organisasi/masyarakat  (sumber nilai, persepsi).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar